Lebaran kali ini aku akan segera pulang. Menemui sebuah kampung dingin pada sebuah lahan mirip bukit. Di belakang gunung Wayang Windu yang menyimpan pesona ribuan dollar uang yang digerus orang Jakarta, juga para penggede dari tanah Kulon dan si Sipit dari Negeri Matahari Terbit. Masyarakat asli keteran menjalani hidup ketika uang digelontorkan dari saku celana para penggede tadi. Sebuah tontonan yang “menghibur”!
Jika saja malam tak cepat berakhir, saya masih bisa berkelana menemani
Rindu berkepanjangan hanya berakhir di ujung malam, terpotong bunyi kokok ayam
Nista nian, lambaian tangan yang mengeras menggupal menjadi luka
Satu persatu episod kehidupan tanggal menyentuh lupa.
Hanya karena iklan dalam sinetron, saya pergi mencari entah.
Pada sebuah kebenaran teronggok petuah usang yang nyaris hancur.
Hitam pekat dimakan lalat tanah, dan terbang tanpa debu.
Seketika anganku hilang dan terbawa pada sebuah ingatan
Emak memang tak lagi punya pesona, tapi garis kecantikan masih tetap tergambar.
Masih seperti dulu. Kebaya merah dadu masih tetap setia menemani.
Yang kubeli dari pasar pagi, bukan di Mall. Mall tempat orang kaya. Demikian emak
pernah bilang.
Akh, Emak ada-ada saja. Mall siap disinggahi orang miskin, termasuk “copet”.
Saya segera datang….
Jangan jemput saya dalam jarak pandang yang dekat
Mungkin malam bisa murka karena saya sempat mengadu.
Sepertiga malam sering Emak habiskan dalam banyak harap, padahal dingin
pernah menusuk pori-pori.
Saya segera datang……
Karena dingin kelambu itu tak perlu dipasang lagi
Selain sudah usang, bekas sodetan tikus menganga di setiap sisi.
Cukup kulit pembungkus pemberianNya, saya sudah lelap.
Emak, saya minta maaf
Jika tak paham puisi, bertanyalah pada Sitok Srengenge atau WS. Rendra
Ajari pula mereka cara “menanak” hati, termasuk saya