Emak…, Saya Minta Maaf!

Lebaran kali ini aku akan segera pulang. Menemui sebuah kampung dingin pada sebuah lahan mirip bukit. Di belakang gunung Wayang Windu yang menyimpan pesona ribuan dollar uang yang digerus orang Jakarta, juga para penggede dari tanah Kulon dan si Sipit dari Negeri Matahari Terbit. Masyarakat asli keteran menjalani hidup ketika uang digelontorkan dari saku celana para penggede tadi. Sebuah tontonan yang “menghibur”!

Jika saja malam tak cepat berakhir, saya masih bisa berkelana menemani
Rindu berkepanjangan hanya berakhir di ujung malam, terpotong bunyi kokok ayam
Nista nian, lambaian tangan yang mengeras menggupal menjadi luka
Satu persatu episod kehidupan tanggal menyentuh lupa.

Hanya karena iklan dalam sinetron, saya pergi mencari entah.
Pada sebuah kebenaran teronggok petuah usang yang nyaris hancur.
Hitam pekat dimakan lalat tanah, dan terbang tanpa debu.
Seketika anganku hilang dan terbawa pada sebuah ingatan

Emak memang tak lagi punya pesona, tapi garis kecantikan masih tetap tergambar.
Masih seperti dulu. Kebaya merah dadu masih tetap setia menemani.
Yang kubeli dari pasar pagi, bukan di Mall. Mall tempat orang kaya. Demikian emak
pernah bilang.
Akh, Emak ada-ada saja. Mall siap disinggahi orang miskin, termasuk “copet”.

Saya segera datang….
Jangan jemput saya dalam jarak pandang yang dekat
Mungkin malam bisa murka karena saya sempat mengadu.
Sepertiga malam sering Emak habiskan dalam banyak harap, padahal dingin
pernah menusuk pori-pori.

Saya segera datang……
Karena dingin kelambu itu tak perlu dipasang lagi
Selain sudah usang, bekas sodetan tikus menganga di setiap sisi.
Cukup kulit pembungkus pemberianNya, saya sudah lelap.

Emak, saya minta maaf
Jika tak paham puisi, bertanyalah pada Sitok Srengenge atau WS. Rendra
Ajari pula mereka cara “menanak” hati, termasuk saya

Diterbitkan di: on September 20, 2008 at 2:21 am Komentar (2)

Mungkin ini Adalah ‘Rumah’ Baruku

Jika saja saya tak menemukan tulisan sahabat saya bernama Insan Sains, saya mungkin tak akan nyemplung dan ikut bergabung di sini. Tempat singgah di manapun, selalu saya sebut ‘rumah’. Rumah sebagai tempat singgah, berteduh sekaligus pula tempat sembunyi.

Nama yang saya sebut sebagai sahabat tadi adalah lelaki teduh dengan wajah yang biasa. Di balik kebiasaan tadi, tersimpan nilai-nilai yang rasanya tak etis jika diguar di sini. Ya, karena adanya tulisan Akanglah saya berani membuat sesuatu di rumah ini. Semoga saja bisa berdiri kokoh karena bahan ‘bangunan’ yang dipakai tak sebagus pondasi Akang.

Pada rumah lama saya telah didepak. Diceritakan pula, saya memiliki kembaran baru bernama ‘entah’. Saya ingin si empunya rumah tadi memberikan penjelasan kenapa saya diusir. Hingga saat ini, saya belum tahu, bahkan tak pernah paham, kenapa saya diusir!

Setiap kenyataan hidup adalah bahan renungan. Pahit manis sama indahnya karena saya sadar betul bahwa perjalanan panjang menmpuh hidup terasa garing jika tanpa cucuran keringat dan tentu air mata. Saya menganggapnya sebagai sebuah ’sentuhan’ atas kasih sayang Tuhan bahwa apa yang kita sodorkan akan menghasilkan dua kebijakan, yang pro dan kontra.

Tak banyak yang ingin saya tulis. Saya hanya ingin beruluk salam dan memperkenalkan diri. Semoga kalian menerima….Untuk Insan, saya tak jemu membaca karya Akang. Hanya saja saya penasaran dengan komentar Akang di situs Abu-abu bahwa Tokoh Kita Pekan Ini di mana Akang menjadi bintang di episod tersebut, Akang belum ngasih komentar.

Ditunggu, Kang Insan!

Diterbitkan di: on September 15, 2008 at 12:07 pm Komentar (9)